



##SAVE NKRI from EVIL INJECTION##
2SESEORANG TELAH MEMBERIKAN SUARANYA UNTUK INDONESIA..bagaimana dengan ANDA??
satukan tekad LAWAN WESTERNISASI!!!!!| reaction |
“Dia tahu, namun dia tidak menyadarinya”, begitulah ucap seorang pemilik Duma mengomentari Cheetah, “anak pungut” yang sudah dianggap begitu manusia. Dalam situasi yang serba aneh, harus diyakini bahwa yang paling mengkhawatirkan dari kehidupan adalah hidup itu sendiri.
Adalah Alvin Toffler yang pernah berkata dalam sebuah refrein persoalan yang kurang begitu menarik: ekonomi. Tetapi ada sebuah literasi pikir yang dibilang panjang umur dari Toffler bahwa tengah terjadi aktivitas super simbolik yang menyebar secara dramatis, dan (mungkin) tidak dapat diubah lagi. Namun, Toffler bukan penerawang yang baik ketika membicarakan soal kehidupan rendahan: gairah hidup secara personal. Itu adalah bentuk Amerika di tahun 1960.
Kemudian jika mata panah itu diarahkan kembali pada maksud seorang pemilik Duma, yang begitu atraktif memainkan perannya sebagai seorang Bapak bagi seorang bocah belasan tahun, sekaligus seekor Cheetah. Sebab ia harus mengurai secara detail dan terpisah, setiap inci kasih sayang dan naluri liar: kebrutalan binatang yang telah menjadi daging tumbuh membara dan membesar, antara dua anak yang dilahirkan dari ibu yang benar-benar berbeda.
Si Bapak pun akhirnya mati oleh keganasan hidup yang ia jalani, akan tetapi bukan oleh kenestapaan, melainkan satu ritus keniscayaan bahwa hidup begitu berarti bagi sebuah perjalanan tanpa tepi: dunia lain ruang yang begitu tidak terbaca dalam frasa iman yang dimilikinya. Ia adalah si Amerika yang keras kepala, karena bersikukuh untuk tetap melindungi kegetiran ekonomi dengan cara bertani Gandum, dan bukan dengan berdasi Vitaliano Pancaldi juga sepatu Ferragamo, yang kemudian tubuhnya dibalut dengan jas Armani lantas mondar mandir di kantor serba kaca. Bapaknya mati dalam kedaaan begitu bahagia, menggenggam kehidupannya yang paling asli. Setidaknya begitulah tafsir anaknya atas tragedi pribadi yang menimpa.
Disinilah gerakan pikir Toffler mulai bisa disadari sebagai bualan malang kehidupan Amerika yang sejatinya begitu muram. Modifikasi hidup yang extra ordinary dilakukan secara massal. Tahun-tahun peralihan gelombang dunia kedua menuju tiga yang begitu haru jika dirasakan dengan indera batin manusia yang lebih mendahulukan memahami Sangkuni daripada Durna. Sebab bukan terletak pada dikotomi Kurawa-Pandawa, melainkan adalah satu sinergi pembauran yang begitu membosankan. Informasi yang tidak mengarah pada apapun, begitulah masa puber kedua sebuah bangsa harus dijalani.
Reformasi memang tidak sepenuhnya bisa dibenarkan. Begitu puing-puing runtuhan dari jatuhnya sang Jenderal yang begitu “merdeka” itu justru dianggap sebagai hologram labirin: kemunculan sinar terang tersembunyi dibalik dimensi yang terletak pada awang-awang antah berantah. Sebab mereka yang mencintai perubahan justru lupa diri untuk sekedar mampir, mencecap tetes tebu yang tidak berbilang rasanya: getir, manis, sekaligus pahit.
Diterbangkan ingatan kita pada seorang Rusia, Alexandra Kollontal (1872-1952), seorang penyeru yang mengakhiri kegundahannya di tahun 1915, dengan menyebarkan pamflet “Who Needs War?”. Tidak seorang prajurit garda depan pun yang luput dari ruh komando pamflet itu. Pun ternyata revolusi berakhir gagal. Senja buram, tanpa sinar putih diantara merah yang sudah terlanjur menyala. Kaum Bolshevik belum cukup kuat menandingi Menshevik yang konon justru begitu banyak pengkhianatan. Perang berlalu, dan Kollontal pun mati, sebagai musuh Stalinist. Ia adalah perempuan Bolshevik yang terlupakan sekaligus membuat Rusia dikenal: entah dalam apa?
Akhirnya, penggalan sejarah dan naskah yang telah selesai digubah hanya menjadi seonggok batu peradaban yang bisu. Karena masyarakat kini mulai merindukan kediaman dalam arti yang sebenarnya: No comment. Itulah seharusnya kita sekarang.***
54.634.21__Indonesia:::
April, 14th 2012~


##SAVE NKRI from EVIL INJECTION##
Berikan suara untuk INDONESIA...
satukan tekad LAWAN WESTERNISASI!!!!!| reaction |
Lantas zaman menertawakan dirinya sendiri lewat jargon pinggiran kali: GALAU. Memang kata tersebut bukan satu-satunya yang mampu meludeskan kegetiran dan ketidaksampaian manusia menghadapi dirinya sendiri dan jagad besar dalam jagad kecilnya. Tentu bukan tanpa alasan ketika Raja Nero yang yang kesepian itu membakar sendiri kotanya, dari atas bukit ia melihat sambil lakak-lakak meminum tuak Eropa; lantas terbitlah Nero Burning Room. Bahkan yang lebih menyedihkan dan memiliki arti bagi yang merasakan sama, tatkala Suteja yang putra Kresna itu membunuh adik tirinya sendiri: Samba. Satu perlakuan bunuh yang dilakukan diantara dendam dan cinta yang serba penuh. Tentu hal ini bukanlah peristiwa batin yang mudah digamblangkan, kecuali bagi Togog dan Mbilung yang memang menjadi sang Penokoh Batin bagi Suteja.
Pada akhirnya ada satu kepantasan untuk mengakui bahwa kegalauan bukanlah sebuah kemabukan bentuk baru, akan tetapi adalah satu sinergi batiniah yang mengabad lamanya. Pun demikian, sejarah juga tidak pernah mangkir untuk menertibkan cara baca kekinian menuju sebuah refrein paradoksal.
“Surèm-surèm dwiyangkara kingkin. Lir manguswa kang layon. Dénya ilang memanisé” (Remang-remang matahari bersedih. Seperti membau bangkai orang. Dan hilanglah keindahannya)
Setelah terdengari itu, akhirnya mungkin dahulu pada saat kepedihan yang paling, Werkudara melabuhkan hatinya pada malam, meninggalkan cinta manusia dan segala kenangan tentang kemanusiaan, pati rasa, atau ia justru nglangut dan menggunjing semuanya, bahkan dirinya sendiri. Dalam dunia yang dianggap Galau, banyak kaki tuntas dilangkahkan tanpa arti.
Pèksi Manyura
Wanciné andungkap gagat rahina
Saniskara wosing pagèlaran
Kang bècik kètitik
Kang ala ketara
Awit iku mapan nyata
Beciké kang lugu
Aja sèmbrana
Tindak tanduk kang prayoga
Jika saja Indonesia tanpa pernah ada bayangan Werkudara, bisa jadi manusia tidak perlu lagi memaksakan kegagahan penuh tangis yang dikedapkan suaranya.***


##SAVE NKRI from EVIL INJECTION##
Berikan suara untuk INDONESIA...
satukan tekad LAWAN WESTERNISASI!!!!!| reaction |

Entahlah, namun hari-hari semakin padat dengan waktu-waktu yang begitu dekat dengan diri sendiri. Apakah itu suatu penghindaran jiwani, ataukah upaya membohongi realitas, ataukah justru membuka yang sedianya harus tertutup. Akan tetapi bukankah bagian terbesar dari hidup adalah berjalan dalam arti yang sebenarnya. Meleburkan seluruh pribadi yang memiliki ingatan dan pengalaman?
Namun toh aku tidak merasai sedang meledak atau terjungkal dalam dilema, karena seperti biasa, aku begitu rindu untuk berbagi, bahkan jauh dari kehendak mempengaruhi. Seperti halnya seorang bocah yang masih kecil, yang menceritakan dengan riang gembira, sekaligus duka lara dan nestapa dalam panjang jalan yang terlewati dan disaksikan secara utuh oleh mata dan batin. Ya meskipun segala dariku tidak pernah utuh, bukan karena aku sengaja menutupi beberapa. Namun memang sebagian kehidupan harus dijalani sebagai serpihan kejadian yang terus terjuntai ke atas, mencari ujung dari segala awal mula.
Menjadi menggembirakan, bahkan aku merasa diriku begitu terbebas dari intrik yang panjang dan melelahkan. Atau rona-rona ketidaktulusan bertindak. Aku memaksa yakin bahwa yang terjadi dulu sekedar pekerjaan, atau tugas tanpa atasan: sebagai manusia yang harus berbuat. Karena bagiku, tidak ada yang telah kulakukan tanpa kesadaran. Toh aku tidak pernah membunuh secara sadis kepada siapapun. Aku senantiasa berpikir dan mencarikan jalan keluar terbaik bagi sekian kebuntuan yang pernah disodorkan kepadaku untuk kugebrak. Aku juga tidak mengira bahwa aku sudah selamanya sukses dalam menjebol keterhimpitan.
Dan perbukitan-perbukita senja di angan dalam rak kenangan, atau sinar matahari pagi yang menusuk pupil sebab kurang memejamkan mata. Juga sekian ribu kilometer pergeseran area memindah tubuhku dari satu tempat ke tempat yang lain. Semua berarti, semua berfungsi, semua berputar pada porosnya. Bahkan dari tempat yang terdangkal dan tertinggi dalam capaian pengembaraan jasmani dan rohani. Aku tidak bisa menghentikan pelukan itu, satu pelukan yang lebar tanganya seluas bumi. Yang besar hangatnya pas, seperti matahari yang bersinar setengah di musim hujan ketika pagi. Tidak ada sengatan lain kecuali panas yang menyehatkan badan.
Aku bahkan begitu jarang melakukan kemurungan-kemurungan seperti sediakala sewaktu masih menetapkan diri untuk tinggal di persimpangan. Ya ketika lalu, tatkala manusia yang membaur musti kutebalkan sekatnya, kemudian kurajut ulang kelekatannya. Menciptakan nuansa apa adanya, wah....begitu rumit kehidupan yang sepert itu. Dan sekarang, yang tertinggal untuk bisa ditangkap ialah makna-makna peristiwa yang menumpuk seperti unsur hara, menyuburkan tanpa mematikan kehidupan. Mempercepat keadaan tanpa membuat lambat jangkah dan jarak.
Hmmm..fajar yang seringnya menyingsing, kemudian mencium kening batinku, begitu sendu dan istimewa.
Sebuah hikmah abadi bahwa memanfaatkan adalah kekejian, bermanfaat adalah membahagiakan, dan dimanfaatkan adalah satu hal menyedihkan, dan bahkan aku begitu yakin, bahwa aku bukanlah manusia nir-rasa. Akupun pernah menjadi seorang penangis yang paling ulung jika tengah dilanda sepi sebesar bumi. Atau, aku menjadi tukang tertawa paling tahan, jika suasana begitu lucu untuk sekedar dibikin canda.
Bisa jadi, dengan segala yang pernah dilalui, aku ternyata bukanlah manusia yang memiliki misteri. Karena semua begitu terbuka kini, setidaknya itulah yang ada dalam benakku yang paling murni. Karena aku berkata apa yang aku sadari....dan yang aku alami. Tapi memang aku hanya memiliki satu bibir, yang mustahil sanggup selesai menyampaikan semua hal yang pernah teralami. Dan lebih tegasnya, dalam skala ekonomi, aku tidak memiliki pantulan energi kekuatan materi, yang setidaknya sanggup membuat tenang orang ketika mendengar cerita miskin babak: dariku***


##SAVE NKRI from EVIL INJECTION##
Berikan suara untuk INDONESIA...
satukan tekad LAWAN WESTERNISASI!!!!!| reaction |
A : Dipercaya sepenuhnya. Sumber keterangan diberi nilai A apabila:
dapat dipercaya sepenuhnya
sanggup dan siap sedia memberikan keterangan pembenarannya (meyakinkan kebenaran dari ketaran yang dilaporkan)
banyak pengalaman
mengetahui benar latar belakang mengenai jenis-jenis keterangan yang dilaporkan
B : Biasanya dapat dipercaya. Sumber keterangan diberi nilai B apabila:
dipercaya
siap sedia memberi keterangan tambahan atas keterangan yang dilaporkan.
C : Agak dapat dipercaya. Sumber keterangan dapat dinilai C apabila:
bersedia memberi penjelasan
tak sanggup memberikan keterangan tambahan
D : Biasanya tidak dapat dipercaya. Sumber keterangan diberi nilai D apabila:
sanggup memberikan informasi
ada kemungkinan isinya menyesatkan
E : Tidak dapat dipercaya. Sumber keterangan diberi nilai E, bila dipandang tidak mencukupi syarat untuk dapat dipercaya.
F : Kepercayaannya tidak dapat dinilai. Sumber keterangan dapat dinilai F bila tidak ada dasar yang cukup untuk menentukan tingkat kepercayaan.


##SAVE NKRI from EVIL INJECTION##
Berikan suara untuk INDONESIA...
satukan tekad LAWAN WESTERNISASI!!!!!| reaction |

Komandan Kontingen Kolonel Inf Raharyono yang sehari-hari menjabat sebagai Paban III/Latga Sops TNI melaporkan bahwa TNI memperoleh 82 medali emas, 30 perak dan 8 perunggu serta 9 trofi dari nomor perorangan maupun beregu. Dari nomor perorangan, memperoleh 9 medali emas, 7 perak, 4 perunggu dan 2 buah trofi. Sementara untuk nomor beregu, memperoleh 73 medali emas, 23 perak, 4 perunggu dan 7 buah trofi. Gelar juara umum telah diperoleh Kontingen TNI untuk ketiga kalinya, berturut-turut pada tahun 2005, 2008 dan 2012 dengan materi lomba senapan, pistol dan SO/GPMG secara perorangan maupun beregu.
Dari 9 match yang dilombakan, kontingen TNI meraih 6 (enam) match pada posisi Juara I dan 3 (tiga) match pada posisi Juara II. Untuk kejuaraan eksebisi pistol putri, petembak pistol putri TNI menduduki peringkat satu, baik untuk nomor perorangan maupun beregu.
Lomba Tembak berskala internasional ini diselenggarakan setiap 4 tahun sekali oleh Angkatan Bersenjata Diraja Brunei yang pada tahun ini diikuti oleh kontingen dari 10 negara yaitu : Inggris, Australia, Singapura, Kamboja, Oman, Pakistan, Malaysia, Vietnam, Brunei Darussalam dan Indonesia.
Panglima TNI pada upacara penerimaan Kontingen TNI berharap agar prestasi yang telah dicapai tidak membuat lupa diri, sombong dan takabur, tetapi harus menjadi pemicu agar semakin giat berlatih guna mempersiapkan kontingen TNI berikutnya pada lomba tembak BISAM yang akan datang.
Lebih lanjut Panglima TNI juga menekankan kepada para unsur pimpinan angkatan agar lebih mengoptimalkan pembinaan petembak di angkatannya masing-masing dan diharapkan dapat membentuk kader atlet petembak di lingkungan TNI, serta dapat menumbuhkan keterampilan dan profesionalitas menembak pada setiap prajurit TNI.
Pada upacara tersebut, secara simbolis diserahkan piagam penghargaan kepada Praka Sugiono, atlet tembak yang berhasil meraih medali terbanyak, yaitu 8 medali emas. Prajurit yang bergabung dengan TNI AD pada tahun 2003, kini berdinas di Yonif Linud 328 Kostrad, Cilodong.
Hadir pada upacara penerimaan kontingen, diantaranya, Kasum TNI Letjen TNI J. Suryo Prabowo, Irjen TNI Marsdya TNI Sukirno, Wakasal Laksdya TNI Marsetio, Asops Panglima TNI Mayjen TNI Hambali Hanafi dan Wadanjen Kopassus Brigjen TNI Doni Monardo.
Autentikasi :
Kadispenum Puspen TNI, Kolonel Cpl Ir. Minulyo Suprapto, M.Sc.,M.Si.,M.A.


##SAVE NKRI from EVIL INJECTION##
Berikan suara untuk INDONESIA...
satukan tekad LAWAN WESTERNISASI!!!!!| reaction |
Nusup silem ning mega wah...
Alok-alok playune kesandung-sandung tobil...
Darane dewe ucul
Jroning gupon akeh piyike
Nora kopen kontrang-kantring
ombene wus asad pakan mung kari wadahe
Akeh kang kebandang gupone katon komplang
Jebulane.... sak kabehe...
Milik sarwo melok ingkang dudu mestine
Amburu uceng... kelangan delek...
Mrih tentreming bebrayan
Urip ingkang prasojo
( Narto Sabdo )
----
Beramai-ramai mengejar burung dara terbang tinggi, aduh
Menyusup menyelam dalam mega, wah
Berteriak-teriak larinya tersandung-sandung, tobil (anak kadal)
Burung dara kita lepas
Dalam kandangnya banyak anaknya
Tidak terurus, mencicit bingung
Air minumnya sudah kering, makanan tinggal tempatnya
Banyak yang terseret (arus) kandangnya tampak kosong
Ternyata, semuanya
Berhasrat serba memiliki yang bukan sepantasnya
Memburu hal kecil, kehilangan hal besar (kehormatan)
Agar pergaulan tentram
Hiduplah dengan jujur seadanya
( Narto Sabdo )
Sejatinya pemahaman itu lahir dari kualitas prediksi, tidak beda dengan upaya menciptakan kembali dialektika murni yang terkubur dalam sumur mula budaya. Menjadi kontroversi bukanlah jawaban atas pertanyaan yang membanjiri media penuh gairah semu. Mimesis sukses menaikkan derajat kepalsuan, dan manusia menyukai hal ini. Sehingga yang murni dan orisinil lengkap terdepak. Sebut saja forum-forum budaya dan kinerja rapat penuh pemikiran, tak ayal mereka mengakhiri debut hari-harinya dengan minum Bir atau alkohol impor, sambil terus mengelilingi dirinya dengan “benda-benda syahwat”. Padahal jelas yang namanya tuak lokal masih bisa ditemukan di hampir setiap penjuru pulau-pulau di Indonesia. Dalam berbuat dosapun mereka lebih memilih cara dan gaya orang sana. Ini membingungkan sekaligus pengecut. Selera dosa, itulah pendek katanya.
Lantas, jika upaya menciptakan kembali kemurnian Indonesia hanya dilakukan dengan sentuhan tangan tukang bangunan yang tidak mengerti ilmu tanah sejarah bangsa dan visi, untuk apa semua musti terus dikerjakan, dalam gemetar value project yang milyaran?
Tidak ada dusta diantara kita hanya menjadi slogan ketuk pintu, guna meraup jabat tangan peserta baru: manusia yang suka membiarkan burung dara terlepas. Mburu uceng kelangan delek, milik sarwo melok ingkang dudu mesthine. Narto Sabdo memang bukan manusia yang pantas dijadikan pedoman memandang, namun paling tidak, dalam kekhilafannya dahulu ada lirik ketulusan dan pengingkaran terhadap keadaan yang semakin jahat dan mendekati legalitas aksi penghancuran. Tidak semua namun nyaris merata. Menebeng pada kantong akademis dan gerbong politik. Demokrasi membacakan text ke-Indonesia-an dengan cara yang salah.
Jika kesantunan hanya dikreasikan menjadi sebuah alasan percuma dan banci untuk mengakui satu kesalahan dan sebaliknya, kebenaran. Pertanyaannya adalah untuk apa toga guru besar itu terus-terusan dijadikan bahan pertimbangan menyusun kembali paragraf arah kebangsaan. Dari penempatan manusia yang bukan ahlinya, hingga tarik ulur sesuatu yang jelas-jelas seharusnya dibekukan dan dibuang: miras dan riba. Politik itu seperti permen karet yang manis, sebab bisa dibilang manusia suka mencecapnya namun tak ada yang benar-benar sudi menelan materinya. Dan itu adalah satu pengkhianatan pikir, dan yang melakukan itu seharusnya tidak bisa diberi stempel lulus sarjana. Sebab landasan pacu nurani manusia sejatinya tidak akan setuju dengan penindasan, tidak terkecuali pola pengambilan kebijakan yang persis seperti pasar gelap. Semua hanya masalah tidak suksesnya mengendalikan diri. Ada uang ada barang, dan selesai dengan sangat begitu saja. Tanpa memperhatikan dan peduli bahwa mungkin anak dan bangsanya sendiri yang akan menjadi pembeli pertama dari “produk haram” yang ia ciptakan.
Berpikir pragmatis menjadi kebanggaan baru, sehingga ketika manusia yang merasa paham atas kehendak dunia berdiri di hadapan khalayak, ia tidak akan berkata lain kecuali pembusukan. Begitu seterusnya. Ilmu dunia tidak pernah mungkin sanggup memahami dirinya sendiri, bahkan kaliber sekte intelejensia yang mulai dikembangkan sebagai sarana perluasan strategi taktis. Karena mustahil sesuatu yang berdiri di atas landasan kosong mampu mendirikan satu soko guru yang tangguh dari badai, bahkan menzirahi tubuhnya dari Rayap yang hanya nol koma sekian ons.
Menguasi keadaan bukan segala-galanya, termasuk “kesaktian” membangun mata-telinga, karena hal itu hanya perkara teknis yang bisa dipelajari tanpa hati. Pemikir sekarang sudah mulai lupa bahwa untuk mengatakan “tiga” tidak harus dengan “3”, namun bisa dengan jutaan cara. Dan inilah esensi dari prediksi nilai. Yang jauh tidak terukur itulah yang semestinya disederhanakan formulanya. Rasaya syok melihat seorang petinggi, yang nekad dan ngotot bahwa “hanya dua tambah tiga lah yang sama dengan lima”, sedang fakta teryakini bahwa pembuktian matematika akan memihak pada versi lain dari sebuah kebenaran aksen, karena seribu dikurangi sembilan ratus sembilan puluh lima pun juga mengasilkan nilai “lima”. Dan paradoks inilah yang membuat orang memilih cara kilat bahwa jika tidak begini maka pasti akan begitu, padahal belum tentu. Dan inilah bukti nyata upaya penghilangan nilai fungsi kuasa Alloh dari setiap urusan.
Menjadi murni memang bukan satu-satunya tujuan, namun menghindari kepalsuan adalah garis juang yang seyogyanya jangan hilang. Karena yang namanya palsu, ia tidak akan pernah dibuktikan kebenarannya, bahkan dengan cara matematika yang paling sederhana. Dan mungkin itulah yang hendak dikatakan Narto Sabdo pada dirinya sendiri yang bisa jadi diharapkan mewakili sisi-sisi hidup antah berantah: kehidupan seorang Dhalang Maksiat, atau Puppet Master~


##SAVE NKRI from EVIL INJECTION##
Berikan suara untuk INDONESIA...
satukan tekad LAWAN WESTERNISASI!!!!!| reaction |