we are here to be one
to be red
to be white
to be Indonesian Fundamentalist


Sunday, 29 January 2012

Mawas Diri: Antara Nilai dan Tafsir

Rame-rame ngoyak dara mabur muluk aduh...

Nusup silem ning mega wah...

Alok-alok playune kesandung-sandung tobil...

Darane dewe ucul

Jroning gupon akeh piyike

Nora kopen kontrang-kantring

ombene wus asad pakan mung kari wadahe

Akeh kang kebandang gupone katon komplang

Jebulane.... sak kabehe...

Milik sarwo melok ingkang dudu mestine

Amburu uceng... kelangan delek...

Mrih tentreming bebrayan

Urip ingkang prasojo

( Narto Sabdo )

----

Beramai-ramai mengejar burung dara terbang tinggi, aduh

Menyusup menyelam dalam mega, wah

Berteriak-teriak larinya tersandung-sandung, tobil (anak kadal)

Burung dara kita lepas

Dalam kandangnya banyak anaknya

Tidak terurus, mencicit bingung

Air minumnya sudah kering, makanan tinggal tempatnya

Banyak yang terseret (arus) kandangnya tampak kosong

Ternyata, semuanya

Berhasrat serba memiliki yang bukan sepantasnya

Memburu hal kecil, kehilangan hal besar (kehormatan)

Agar pergaulan tentram

Hiduplah dengan jujur seadanya

( Narto Sabdo )


Sejatinya pemahaman itu lahir dari kualitas prediksi, tidak beda dengan upaya menciptakan kembali dialektika murni yang terkubur dalam sumur mula budaya. Menjadi kontroversi bukanlah jawaban atas pertanyaan yang membanjiri media penuh gairah semu. Mimesis sukses menaikkan derajat kepalsuan, dan manusia menyukai hal ini. Sehingga yang murni dan orisinil lengkap terdepak. Sebut saja forum-forum budaya dan kinerja rapat penuh pemikiran, tak ayal mereka mengakhiri debut hari-harinya dengan minum Bir atau alkohol impor, sambil terus mengelilingi dirinya dengan “benda-benda syahwat”. Padahal jelas yang namanya tuak lokal masih bisa ditemukan di hampir setiap penjuru pulau-pulau di Indonesia. Dalam berbuat dosapun mereka lebih memilih cara dan gaya orang sana. Ini membingungkan sekaligus pengecut. Selera dosa, itulah pendek katanya.

Lantas, jika upaya menciptakan kembali kemurnian Indonesia hanya dilakukan dengan sentuhan tangan tukang bangunan yang tidak mengerti ilmu tanah sejarah bangsa dan visi, untuk apa semua musti terus dikerjakan, dalam gemetar value project yang milyaran?

Tidak ada dusta diantara kita hanya menjadi slogan ketuk pintu, guna meraup jabat tangan peserta baru: manusia yang suka membiarkan burung dara terlepas. Mburu uceng kelangan delek, milik sarwo melok ingkang dudu mesthine. Narto Sabdo memang bukan manusia yang pantas dijadikan pedoman memandang, namun paling tidak, dalam kekhilafannya dahulu ada lirik ketulusan dan pengingkaran terhadap keadaan yang semakin jahat dan mendekati legalitas aksi penghancuran. Tidak semua namun nyaris merata. Menebeng pada kantong akademis dan gerbong politik. Demokrasi membacakan text ke-Indonesia-an dengan cara yang salah.

Jika kesantunan hanya dikreasikan menjadi sebuah alasan percuma dan banci untuk mengakui satu kesalahan dan sebaliknya, kebenaran. Pertanyaannya adalah untuk apa toga guru besar itu terus-terusan dijadikan bahan pertimbangan menyusun kembali paragraf arah kebangsaan. Dari penempatan manusia yang bukan ahlinya, hingga tarik ulur sesuatu yang jelas-jelas seharusnya dibekukan dan dibuang: miras dan riba. Politik itu seperti permen karet yang manis, sebab bisa dibilang manusia suka mencecapnya namun tak ada yang benar-benar sudi menelan materinya. Dan itu adalah satu pengkhianatan pikir, dan yang melakukan itu seharusnya tidak bisa diberi stempel lulus sarjana. Sebab landasan pacu nurani manusia sejatinya tidak akan setuju dengan penindasan, tidak terkecuali pola pengambilan kebijakan yang persis seperti pasar gelap. Semua hanya masalah tidak suksesnya mengendalikan diri. Ada uang ada barang, dan selesai dengan sangat begitu saja. Tanpa memperhatikan dan peduli bahwa mungkin anak dan bangsanya sendiri yang akan menjadi pembeli pertama dari “produk haram” yang ia ciptakan.

Berpikir pragmatis menjadi kebanggaan baru, sehingga ketika manusia yang merasa paham atas kehendak dunia berdiri di hadapan khalayak, ia tidak akan berkata lain kecuali pembusukan. Begitu seterusnya. Ilmu dunia tidak pernah mungkin sanggup memahami dirinya sendiri, bahkan kaliber sekte intelejensia yang mulai dikembangkan sebagai sarana perluasan strategi taktis. Karena mustahil sesuatu yang berdiri di atas landasan kosong mampu mendirikan satu soko guru yang tangguh dari badai, bahkan menzirahi tubuhnya dari Rayap yang hanya nol koma sekian ons.

Menguasi keadaan bukan segala-galanya, termasuk “kesaktian” membangun mata-telinga, karena hal itu hanya perkara teknis yang bisa dipelajari tanpa hati. Pemikir sekarang sudah mulai lupa bahwa untuk mengatakan “tiga” tidak harus dengan “3”, namun bisa dengan jutaan cara. Dan inilah esensi dari prediksi nilai. Yang jauh tidak terukur itulah yang semestinya disederhanakan formulanya. Rasaya syok melihat seorang petinggi, yang nekad dan ngotot bahwa “hanya dua tambah tiga lah yang sama dengan lima”, sedang fakta teryakini bahwa pembuktian matematika akan memihak pada versi lain dari sebuah kebenaran aksen, karena seribu dikurangi sembilan ratus sembilan puluh lima pun juga mengasilkan nilai “lima”. Dan paradoks inilah yang membuat orang memilih cara kilat bahwa jika tidak begini maka pasti akan begitu, padahal belum tentu. Dan inilah bukti nyata upaya penghilangan nilai fungsi kuasa Alloh dari setiap urusan.

Menjadi murni memang bukan satu-satunya tujuan, namun menghindari kepalsuan adalah garis juang yang seyogyanya jangan hilang. Karena yang namanya palsu, ia tidak akan pernah dibuktikan kebenarannya, bahkan dengan cara matematika yang paling sederhana. Dan mungkin itulah yang hendak dikatakan Narto Sabdo pada dirinya sendiri yang bisa jadi diharapkan mewakili sisi-sisi hidup antah berantah: kehidupan seorang Dhalang Maksiat, atau Puppet Master~

Thursday, 12 January 2012

Menyongsong Zaman, Menagih Janji Reformasi ( Global )


Saat anak-anak kecil yang lahir besar di Amerika lebih menyukai mainan ala Indian yang terusir oleh sejarah berubah menjadi target tambang uang, idealisme perubahan pun melentur. Mimesis bendawi yang berdiri didepan hanyalah pasar, dan bahkan tidak pernah bisa terpermaknai lebih dari itu. Jelas Amerika lebih dulu mengganti model baju piyamanya, dibandingkan negara lain, Indonesia misalnya. Dan sepertinya kaki reformasi hanya mondar-mandir mengejar jahitan baju tidur satu konsep negara “baru”, yang sesungguhnya tidak penting.

Cita-cita Amerika sudah bubar, tersapu gelombang dunia ketiga. Dimana tuntutan percepatan informasi melebihi distribusi uang kartal. Digitalisasi pun bermain, sehingga manusia dijauhkan dari hidup yang sebenarnya. Akses yang “26 jam sehari” menjadikan warganya hidup bagaikan layang-layang, melayang-layang di langit, melihat bumi yang semakin jauh, dan jikapun kembali ia pasti telah disebut jatuh. Dan itulah kesadaran berat yang harus ditanggung.

Brutalisme minimalisasi, kepekaan hanya disandarkan pada frekuensi elektronika, dan bukan hati. Sehingga keluar satu refrein murung seorang penyair Eropa ketika membaca perubahan yang terjadi pada zamannya “we think too much and feel too little”, kegetiran bukan hanya milik manusia pengagung budaya, karena nun jauh dari sekedar itu, anak-anak tetaplah anak-anak, dimana kemurnian adalah dunia yang tidak bisa dipisahkan dengan modus apapun.

Ada sebuah premis revolusioner yang dibilang masyur, membangun asumsinya dengan jaminan bahwa sekeras apapun dekade itu mendatangi jaman, biarpun sarat dengan gejolak dan pergolakan, toh kita tidak akan secara total menghancurkan diri sendiri. Karena perubahan hanya akumulasi dari keingintahuan yang lebih.....( atau keserakahan? )

Tidak disangkal, perubahan memang memberikan transformasi raksasa dalam mendelegasikan cara pikir, gaya hidup. Tapi biaya dan kehilangan yang harus ditanggung terlalu mahal. Bisa dibayangkan, jika Amerika yang katanya menjadi “contoh model dunia” tergerus energinya hanya untuk mengurusi konsultasi kehamilan diluar nikah, kampanye kondom, atau perijinan rumah bordil, ditambah serunya permainan klasifikasi alkohol sebelum umur. Sejatinya segala urusan itu mutlak bisa diselesaikan dengan agama, dan bukan dengan budaya serta legitimasi perubahan atasnya.

Nyali demokrasi memang kuat untuk menantang manusia lebih bebas, namun demokrasi tidak pernah berhasil merumuskan kebebasan yang ideal, hingga kini.

Siapa memburu siapa, dan untuk apa manusia dibiarkan hidup atau dibunuh. Semua itu masih dilema, diantara calo pahlawan hak asasi manusia, sedang kebencian yang berarti pelatuk itu kuat terpancar di wajah mereka yang tidak menghendaki zaman berjalan dalam kemurnian.

Dunia dibuat terbiasa dengan kata per-da-mai-an, yang tidak lebih justru menjadi kunci gembok pintu keadilan. Jika penolak ekonomi versi Adam Smith selintutan menyusun The Death of Economy, atau Habermas dan Derrida yang menutup kuping sambil ngomyang di papan Philosophy in a Time of Teror, kiranya itu semua bukanlah pembeda antara benar salah, karena itu hanya mengungkap sebuah kecenderungan zaman.

Karena batas pembeda antara kegiatan ekonomi dan kejahatan hanyalah satu, terjadinya riba. Dan jika kita sudi menilik lebih cermat, The Real Pentagon of USA bukan gedung segi lima seperti yang telah dicekokkan ke pikiran manusia, melainkan satu Never Sleep Building yang isinya adalah pecandu riba.
Renternir lebih berbahaya dari seorang tentara bersenjata lengkap, karena bank merupakan noda kiri dari sebuah konstitusi, tidak akan meninggalkan seorang manusia hingga mereka terbangun dari tidur di sebuah tempat yang bukan lagi rumahnya, begitulah memoar seorang Thomas Jefferson terhadap negerinya sendiri waktu itu. Dan mungkin Jefferson cuma pengkhianat bagi anak turunya, karena tidak setia terhadap penindasan.

Amerika hanya sebuah nama, tempat sebuah populasi besar yang menghimpun dunia dari riba, yang begitu takut dengan gelombang dunia ketiga. Sedang kelak, pada satu hari yang panas, dimana hijau daun Akasia tinggal menjadi pengisi angan penat hari, manusia Indonesia yang memburu demokrasi akan berkata dalam batinnya, bahwa ia telah tertipu dan tempat kembali sudah terlalu jauh dan rumit ditemukan, meski cuma kerangkanya~
-------------------------------------------------------------------------
sekilas mengenang kembali Psychological Operations in Guerrilla warfare.
.
Ditulis untuk Korps Pegiat Informasi
January, 12-2012:::::9:09pm~

Thursday, 22 December 2011

Lik Man in Memoar~

"..semua lampu mati, cahaya hijau semburat dari pojok barat, pentas terbakar. selesai dengan dihentikan."

Mata berkaca-kaca. Diam di mulut kayu semakin sendu. Dari luar, daging manusia pelukis nampak tanpa dilema. Yes..yes..

Mata dan pikiran: Ia memiliki banyak Bonsai di masa lalunya. Menebangi pohon langka, dipindah dalam kamar, dan dirajutnya ranting dan dahan menjadi sesuatu yang mewakili lagu diri. Itulah penyiksaan paling pertama yang pernah ia lakukan.

Saat pohon itu mulai manja dan ketagihan dengan puja-puji manusia atas anggun bentuk kayu, pelukispun gusar, karena ia tidak terbersit untuk mengajarkan kesombongan. Kemudian pelukis itu membantai kebebasan dari semua marga pemikiran. Tiada guna mengaduh belas kasihan, karena moncong sikap tega dan ketegasan telah sukar ditarik mundur.

Ia membuat jeruji dari ingatan kelam masa lalu. Dengan termangu ia memaknai kesempitan yang bisa jadi lebih terhormat. Penjara itu begitu tidak terlihat. Sehingga yang nampak diluar justru ia adalah manusia yang sukar terborgol, banyak sayap, dan bisa terbang kemana suka. Namun itu kebohongan persepsi. Mereka tahu bahwa kebencian tidak bisa disulap menjadi cinta kasih. Pun juga dendam sosok yang jauh dari air, atau...polahnya yang terkesan tanpa norma sewindu lalu.

“aku hanya sudi menghormati kebenaran, dan bukan simpul dasi kalian yang halus oleh setrika”

Lantas ia bunuh semuanya. Kini yang mengada tinggal benih-benih puing, seperti pemulung memungut puntung benda, dan bermimpi bahwa serpihan itu bisa kembali. Menjadi sesuatu yang setidaknya pantas diberi nama.

Apakah kalian pernah menangis yang seperti ini....?

Indonesia..bangsamu bukan manusia yang tidak punya hati. Kerjakanlah hidup dengan kehormatan, dan bukan dengan teori kemakmuran~!!!

Sajak untuk Rosyid dan Arsenal


Bola ditendang, gawang berisi manusia memegang daging proyek kesebelasan nasional

Lapangan cuma angin tornado yang gaungnya lebih merah dari darah dan bakar ban

Tiket mahal, dan olahraga tinggal hanya nama

Karena selebihnya, sepakbola sekedar tempat berkumpulnya cukong keringat pemain dan wasit

Indonesia merindukan sepakbola era Ribut Wahidi~

Lantas seorang pemuda bermimpi tentang kostum merah yang garang

Arsenal masuk dalam tim nasional

Atau setidaknya....manggung di Senayan

( untuk sahabatku: terima kasih kaosnya )

10 Content Provider Penyedot Pulsa


Setelah ditunggu cukup lama pihak konsumen, akhirnya Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) menyebutkan beberapa perusahaan Short Code (SC) dari content provider (CP) yang telah melakukan penyedotan pulsa.

Ternyata, perusahaan yang melakukan pelanggaran itu, tidak terdaftar di BRTI. Dalam beroperasi mereka sangat sangat ilegal.

Menurut anggota BRTI, Heru Sutadi, pemerintah sudah melakukan penghentian (unreg) massal SMS premium, baik konten maupun pop screen, pada 18 Oktober lalu. Begitu juga penghentian pendaftaran CP baru.

Kata Heru pengguna operator harus mewaspadai SMS premium yang kadang “nyasar” atau bahkan sengaja berlangganan. "Jika layanan dan ketentuan membayarnya tidak jelas, maka sebaiknya pengguna mengabaikan atau langsung menghapus SMS tersebut," ungkapnya kepada wartawan di Jakarta, Senin (19/12).

Inilah 10 perusahaan penyedot pulsa:

9393: Layanan ini milik PT Extent Media Indonesia dengan SC 9393, bekerja sama dengan Telkomsel. Layanan ini dikeluhkan oleh 81 pengguna dan belum terdaftar di BRTI.

9877: Layanan ini milik PT Kreatif Bersama dengan layanan kuis dan game. Ada 50 pengguna mengeluhkan layanan ini.

1212: Layanan ini milik PT Telkomsel, Telkom, dan untuk layanan RBT, baik NSP 1212 maupun Langit Musik Telkomsel. Layanan ini diduga belum memiliki izin dari BRTI, tetapi hanya dikeluhkan oleh 49 pengguna.

9399: Layanan ini milik PT Era Cahaya Brillian. Direksinya sama dengan PT Extent Media Indonesia yang belum terdaftar di BRTI. Layanan ini dikeluhkan 32 pengguna.

9899: Layanan ini milik Nextnation Prisma yang menyelenggarakan layanan poin, hadiah, dan SMS pemilihan Pildacil ANTV. Ada 29 pengguna mengadu terkait layanan ini.

1818: Layanan ini milik PT XL Axiata yang melayani RBT. Layanan ini dikeluhkan oleh 24 pengguna. Izin usaha juga belum ada di BRTI

9599: Layanan milik PT Lingua Asiatic yang membuat I-RING 808 Indosat dan lelang. Layanan dikeluhkan 19 pengguna.

9388: Layanan milik PT Infokom Elektrindo yang menyediakan konten musik. Layanan ini dikeluhkan 18 pengguna.

9133: Layanan milik PT Collibri Network yang dikeluhkan oleh 17 pengguna.

2680: Layanan religi dan horoskop dari PT Cequal Indonesia, bekerja sama dengan PT Telkomsel. Layanan ini dikeluhkan 16 pengguna.

sumber iToday

Tuesday, 20 December 2011

Lik Man: Diplomasi ala Angkringan

When a diplomat says yes, he means ‘perhaps’; When he says perhaps, he means ‘no’; When he says no, he is not a diplomat.

Voltaire (Quoted, in Spanish, in Escandell 1993.)


Belum lama ini, saya ditakdirkan bertemu dengan beberapa kawan lama. Yogyakarta terpilih menjadi ibu kota pertemanan kami. Mungkin latah sejarah yang membuat peristiwa menjadi terkesan darurat jika diselenggarakan di kota yang memiliki Ullen Sentalu ini.

Sepak terjang pembicaraan nyaris semua datar. Karena kami memang tidak hendak berboros-boros menggaris bawahi gegojekan tentang Mesuji, aktivasi liberalisme, pun hingga sampai pisah ranjangnya Kosgoro dengan Golkar. Tentu yang tidak boleh disiakan adalah berbagi sejarah dan pemikiran diri. Bahasa paling sederhana dari satu perjumpaan adalah: “kamu apa kabar?”.

Efektif ada lebih dari 30 jam, kami mulai nyambangi beberapa tempat. Lebih tepatnya seperti nostalgia. Mara dayoh, atau bertamu dalam istilah melayu menjadi tidak terelakkan lagi. Dan dari sanalah terbetik dalam benak saya mengenai teori diplomasi. Kasat telinga, tidak ada yang janggal dari keseluruhan diskusi.

Terlihat juga, di taman home stay tempat kawan saya menginap itu scene adegan yang membuat saya terpaku bukan main. Lantas hadir dalam ingatan saya mengenai kearifan orang sana yang bertutur pada anak-cucunya: If lady says “no”, she means “maybe”; If lady says “maybe”, she means “yes”; If lady says “yes”, she is no lady.

Diplomasi memang terdengar membingungkan, lebih mirip legalisasi ambiguitas sikap. Namun diluar perang proyektil, tarik ulur kesepakatan memang menjadi bagian paling histeris dalam satu serpihan waktu. Tatkala yang saling berhadapan itu bukan lagi sekedar mengumbar rasa suka, melainkan mencari arti cinta bagi kemungkinan yang masih tersisa, bukankah hal ini susah ditemukan batas akhir petualangannya?

Simbiosa sosiologis memang bukan sekedar tambal sulam kemacetan ide, tetapi juga merupakan sebuah garis yang harus dilalui semua manusia. Saya menjadi kaget dengan pola pikir saya sendiri selama ini. Pasalnya dari ribuan teori yang ditekuni manusia, toh pada lini pertahanan akhirnya mereka akan masuk pada benteng diplomasi, sebagai langkah cepat ketika ilmu retorika sudah menjadi peluru hampa yang bahkan tidak lagi ditakuti.

Namun saya yakin kerinduan kami akan tumbuh, seiring mengalirnya waktu. Paling tidak kepada beberapa bagian dari isi kota Yogyakarta. Lagipula, jika dimungkinkan kawan saya itu membaca tulisan ini, pasti ia sudah 500 kilometer lebih dari tempat saya duduk sekarang ini. Dan yang satunya, mungkin ia masih berkunang-kunang menahan “jetlag rendezvous”.***

Friday, 16 December 2011

Nasehat As-Syaikh Al Waalid Al ‘Aalim Al Jaliil Abdurrahman bin Nashir Al Barraak -hafidzahullah- untuk Dammaj

Bismillahirrahmanirrahim

Pertanyaan: Anda mengetahui –ahsanallahu ilaikum- apa yang sekarang sedang terjadi di Dammaj berupa tekanan orang-orang Hutsiyyin, pengepungan, bombardir, tuntutan mereka untuk menyerahkan wilayah serta pengusiran. Begitu juga dengan segala musibah yang menimpa saudara-saudara kita di sana. Maka, apa yang wajib bagi ahli sunnah di Yaman dalam menghadapi kejadian ini dan apa pula kewajiban kita terhadap mereka?

Jawaban: Segala puji bagi Allah dan shalatat serta salam atas Rasulullah, serta kepada kelurganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti perunjuknya. Amma ba’du:

Sudah dikenal bahwa kebanyakan orang-orang Hutsiyyun menganut madzhab rafidhah itsna asyriyyah. Mereka sangat terpengaruh dengannya. Begitu juga telah masyhur bahwa mereka mendapatkan dukungan dari negeri rafidhah di Iran. Telah dikenal juga bahwa pemerintah Iran sangat giat melakukan aktifitas penyebaran madzhab rafidhah di negeri-negeri ahli sunnah, begitu juga dukungannya terhadap revolusi khumaini. Maka, dari kalangan Hutsiyyun ini ada yang termasuk golongan rafidhah dan ada pula yang sekedar alat mereka. Mereka semua adalah alat pemerintah Iran di Yaman.

Telah dimaklumi dari para ahli ilmu dari kalangan ahli sunnah bahwa madzhab rafidhah biasa melakukan perbuatan syirik dengan sikap guluw (kultus) mereka terhadap para imam mereka yang dua belas (itsna asyriyyah). Mereka berdoa kepadanya, meminta pertolongan (istighatsah) dan berhaji ke kubur-kubur mereka. Dan telah diketahui dari para ulama ahli sunnah bahwa semua sekte rafidhah seperti itsna asyriyyah, nashiriyyah, darziyyah dan ismaa’iliyyah sangat memusuhi ahli sunnah dari pada kelompok-kelompok yang lain. Oleh karena itu, jika mereka menyerang dan menyakiti ahli sunnah, maka disyariatkan untuk memerangi mereka, karena kesyirikan mereka, juga karena kezaliman mereka.

Berdasarkan pada informasi tentang pengepungan mereka atas Dammaj dan upaya mereka untuk mengusir ahli sunnah dari sana, maka wajib atas kaum muslimin di Yaman dan yang lainnya untuk menggalang kerjasama dalam menolong saudara-saudara mereka yang terzalimi, membela mereka dan menggagalkan upaya kelompok sesat hutsiyyin ini, yang dijadikan oleh Negara Iran sebagai jembatan untuk merealisasikan cita-citanya di negeri Yaman.

Dengan demikian, memerangi mereka adalah sesuatu yang disyariatkan; ia adalah jihad di jalan Allah jika disertai dengan niat yang ikhlas, keinginan untuk meninggikan kalimat Allah, sebagaimana dalam hadis, “Seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Ada orang yang berperang karena fanatisme kesukuan, berperang karena keberanian, berperang karena riya, yang manakah yang termasuk jihad fi sabilillah?” Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang berperang dengan maksud untuk meninggikan kalimat Allah, maka ia di jalan Allah.”

Dan kami juga mewasiatkan kepada saudara-saudara kami di Yaman agar mereka bersatu untuk memerangi kelompok hutsiyyin yang zalim ini, yang berambisi untuk menyebarkan madzhab rafidhah orang-orang musyrik. Karena persatuan mereka adalah sebesar-besar sebab pertolongan dan kemenangan. Adapun perselisihan dan saling berbantah-bantahan, maka ia adalah sebesar-besar sebab kekalahan. Allah berfirman, “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al Anfal: 46)

Allah juga berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (Ali Imran: 103)

Dan bagi kaum muslimin yang berada luar Yaman hendaknya mereka juga membantu saudara mereka sesuai kesanggupannya dalam menolong mereka dari orang-orang zalim serta menghentikan perbuatan buruk hutsiyyin, dalam rangka mengamalkan firman Allah, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” (Al Maidah: 2)

Allah juga berfirman, “jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka.” (Al Anfal: 72)

Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al Hajj: 40)

Wa shallalallahu wa sallam ‘alaa nabiyyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajmain.

Abdurrahman bin Nashir Al Barrak

Ahad, 8 Muharram 1433 H

Diterjemahkan oleh Ustadz Resa Gunarsa, Lc.

Artikel www.salafiyunpad.wordpress.com

Naskah aslinya, silakan Antum baca di http://www.muslm.net/vb/showthread.php?t=462268


Pola Pikir Pertanian

menuju akhir pertarungan bumi melawan percepatan pertumbuhan~___sayangilah anak-anak kita, dan jangan biarkan konsentrat menjadi ibu kedua setelah wanita yang melahirkannya~!


Tanpa Batas aku mengarungi secuil luas bumi

aku mengamati beberapa peristiwa yang dipersaksikan cuma sepetak manusia

namun aku terhalang untuk bercerita, karena pengalaman yang terpilin dalam ingatan dan nalar itu sangat dekat dengan "kebohongan" jika tidak bisa meraba~

bukan salah jemari anak negeri jika tidak sanggup mengetahui isi terdalam dari kulit Indonesia Raya~

dan seperti juga kepingan sejarah, semuanya bercecer meminta untuk disatukan dengan benar~

namun para guru tidak lagi mendidik, para profesor tidak lagi mendalami bursa kepribadian ilmu pengetahuan, dan para budayawan hanya rakus pada applous dan kefasihan retorika~

dengan nama mereka membeli kuasa dan wanita~

dunia akan terlihat sempit, bagi mereka yang cuma puas dengan dua mata

dan dunia juga akan terasa luas digdaya bagi mereka yang tidak sanggup menerima takdir keterbatasan~

satu waktu lalu, aku mengitari daratan yang panjangnya ratusan kilo, kulihat tanah air benar-benar siap untuk dibikin dan dikerjakan menjadi surga halal, tapi mereka memilih lari, menukar kerja keras dengan segenggam berlian imitasi~

getirku dicecap oleh melodia, yang sendunya membikin sepi~

lantas, aku bermimpi menjadi seorang petani, peternak, tukang roti, atau semacamnya, dimana gaung kemenangan bukan pada pita dan stempel surat sakti, melainkan pada keharmonisan memulai...yes..memulai...


tanah dan manusia, kompromi atas hasrat diri dan bumi~

semua menjadi serba kimia, termasuk cara bercermin diri
___kita rindu diversivikasi pertanian::: padi, palawija, tebu, jagung...

___sekarang semua serakah terhadap beras~ kasihan bumi dipaksa bertelur setiap 4 bulan sekali~

Sunday, 11 December 2011

Mencatat Ingatan


Jauh Jarak diperlukan untuk mengenali diri ketika sendiri~!

Tuesday, 6 December 2011

Menyoal Durjana Kemanusiaan


Visi Pelangi, mengambang di langit tak bisa membumi. Jika megahnya tanpa kaki, dengan apa ia bisa disentuh jasmani. Misi Awan, beterbangan berkelana di angkasa. Jika tangguhnya tanpa tangan, dengan apa ia bisa terjangkau pikiran.

Masyarakat tidak semua bisa tunduk dalam kedewasaan berupaya. Bahkan dalam laku gugur gunung sosiokultur pedesaan, dimana tenaga bukan hanya dijual murah melainkan cuma-cuma pun harus ada yang disingkirkan kerelaannya, bahwa tukang kayu harus ikhlas tidak dibayar. Kemanusiaan tidak semua berakhir tanpa dilema, karena waktu menuntut terus melangsungkan hidup.

Tawar menawar dengan situasi merupakan teritorial rumit yang tidak mudah dijaga keutuhannya. Antara penindasan dan ambisi hanya sebenang saja bedanya, bukan karena manusia tidak sanggup menanggung budi pekerti, namun disebabkan jarak antara hari ini dan besok begitu nyata dekatnya. Sedangkan manusia merasa harus terus berebut mempersiapkan masa depan.

Ada yang terkuak diantara kemurungan yang ditahan, bahwa kelangsungan harmoni itu bisa dikerjakan dengan cara yang lebih sopan. Bahwa pun beberapa pejuang harus mundur dan meletakkan senjata, hal itu bukan karena mereka kehilangan semangat tempur: akan tetapi lebih kepada pertimbangan menata sikap yang lebih sempurna.

Untuk menjadi teladan bagi tubuhnya, yang berjiwa harus tidak luntur warna aslinya. Bahwa kemanapun arah kebangsaan membawanya, hanya kepada Alloh lah semua harus disandarkan.

Peradaban mungkin terlalu cepat mengajari manusia membaca, tetapi hal itu tidak lantas musti dijadikan kambing hitam bagi kekalahan dirinya dalam menggenggam martabat dan kehormatan. Ada yang lebih suci dan mulia, dari sekedar rencana memerdekakan manusia dari kemiskinan. Setiap kita akan menjadi pemimpin, hal itulah yang harus dijadikan dasar perjuangan, bahwa untuk memproduksi penerus yang sehat jasmani rohani, yang dilakukan pertama kali adalah mengenalkan anak-anaknya kepada Alloh yang Maha Mencipta.

Jika seorang tua dari pedusunan berkata bahwa indahnya kemesraan itu terletak pada kesetiaan, maka adakah kita yang lebih mengetahui arti semesta ini hendak menghianati perjuangan manusia seluruhnya: Hanya karena tugas bergambar burung Garuda.

Kita harus sekali lagi luruh dalam tananan dialogis paling murni, bahwa manusia bukan negara, namun sebaliknya, negara adalah wujud nyata dari ke-manusia-an, yang keberadaannya tidak boleh selalu dijadikan alasan sebuah pembelaan semu. HAM hanyalah ide gagal dari seorang pembohong. Jikapun yang bersalah itu harus mati, maka itulah kewajaran yang harus kita hafalkan kembali.

Manusia, bebaskan dirimu dari kekosongan yang serakah.

Manusia, penjarakan dirimu dalam kemantapan aqidah.~