Nusup silem ning mega wah...
Alok-alok playune kesandung-sandung tobil...
Darane dewe ucul
Jroning gupon akeh piyike
Nora kopen kontrang-kantring
ombene wus asad pakan mung kari wadahe
Akeh kang kebandang gupone katon komplang
Jebulane.... sak kabehe...
Milik sarwo melok ingkang dudu mestine
Amburu uceng... kelangan delek...
Mrih tentreming bebrayan
Urip ingkang prasojo
( Narto Sabdo )
----
Beramai-ramai mengejar burung dara terbang tinggi, aduh
Menyusup menyelam dalam mega, wah
Berteriak-teriak larinya tersandung-sandung, tobil (anak kadal)
Burung dara kita lepas
Dalam kandangnya banyak anaknya
Tidak terurus, mencicit bingung
Air minumnya sudah kering, makanan tinggal tempatnya
Banyak yang terseret (arus) kandangnya tampak kosong
Ternyata, semuanya
Berhasrat serba memiliki yang bukan sepantasnya
Memburu hal kecil, kehilangan hal besar (kehormatan)
Agar pergaulan tentram
Hiduplah dengan jujur seadanya
( Narto Sabdo )
Sejatinya pemahaman itu lahir dari kualitas prediksi, tidak beda dengan upaya menciptakan kembali dialektika murni yang terkubur dalam sumur mula budaya. Menjadi kontroversi bukanlah jawaban atas pertanyaan yang membanjiri media penuh gairah semu. Mimesis sukses menaikkan derajat kepalsuan, dan manusia menyukai hal ini. Sehingga yang murni dan orisinil lengkap terdepak. Sebut saja forum-forum budaya dan kinerja rapat penuh pemikiran, tak ayal mereka mengakhiri debut hari-harinya dengan minum Bir atau alkohol impor, sambil terus mengelilingi dirinya dengan “benda-benda syahwat”. Padahal jelas yang namanya tuak lokal masih bisa ditemukan di hampir setiap penjuru pulau-pulau di Indonesia. Dalam berbuat dosapun mereka lebih memilih cara dan gaya orang sana. Ini membingungkan sekaligus pengecut. Selera dosa, itulah pendek katanya.
Lantas, jika upaya menciptakan kembali kemurnian Indonesia hanya dilakukan dengan sentuhan tangan tukang bangunan yang tidak mengerti ilmu tanah sejarah bangsa dan visi, untuk apa semua musti terus dikerjakan, dalam gemetar value project yang milyaran?
Tidak ada dusta diantara kita hanya menjadi slogan ketuk pintu, guna meraup jabat tangan peserta baru: manusia yang suka membiarkan burung dara terlepas. Mburu uceng kelangan delek, milik sarwo melok ingkang dudu mesthine. Narto Sabdo memang bukan manusia yang pantas dijadikan pedoman memandang, namun paling tidak, dalam kekhilafannya dahulu ada lirik ketulusan dan pengingkaran terhadap keadaan yang semakin jahat dan mendekati legalitas aksi penghancuran. Tidak semua namun nyaris merata. Menebeng pada kantong akademis dan gerbong politik. Demokrasi membacakan text ke-Indonesia-an dengan cara yang salah.
Jika kesantunan hanya dikreasikan menjadi sebuah alasan percuma dan banci untuk mengakui satu kesalahan dan sebaliknya, kebenaran. Pertanyaannya adalah untuk apa toga guru besar itu terus-terusan dijadikan bahan pertimbangan menyusun kembali paragraf arah kebangsaan. Dari penempatan manusia yang bukan ahlinya, hingga tarik ulur sesuatu yang jelas-jelas seharusnya dibekukan dan dibuang: miras dan riba. Politik itu seperti permen karet yang manis, sebab bisa dibilang manusia suka mencecapnya namun tak ada yang benar-benar sudi menelan materinya. Dan itu adalah satu pengkhianatan pikir, dan yang melakukan itu seharusnya tidak bisa diberi stempel lulus sarjana. Sebab landasan pacu nurani manusia sejatinya tidak akan setuju dengan penindasan, tidak terkecuali pola pengambilan kebijakan yang persis seperti pasar gelap. Semua hanya masalah tidak suksesnya mengendalikan diri. Ada uang ada barang, dan selesai dengan sangat begitu saja. Tanpa memperhatikan dan peduli bahwa mungkin anak dan bangsanya sendiri yang akan menjadi pembeli pertama dari “produk haram” yang ia ciptakan.
Berpikir pragmatis menjadi kebanggaan baru, sehingga ketika manusia yang merasa paham atas kehendak dunia berdiri di hadapan khalayak, ia tidak akan berkata lain kecuali pembusukan. Begitu seterusnya. Ilmu dunia tidak pernah mungkin sanggup memahami dirinya sendiri, bahkan kaliber sekte intelejensia yang mulai dikembangkan sebagai sarana perluasan strategi taktis. Karena mustahil sesuatu yang berdiri di atas landasan kosong mampu mendirikan satu soko guru yang tangguh dari badai, bahkan menzirahi tubuhnya dari Rayap yang hanya nol koma sekian ons.
Menguasi keadaan bukan segala-galanya, termasuk “kesaktian” membangun mata-telinga, karena hal itu hanya perkara teknis yang bisa dipelajari tanpa hati. Pemikir sekarang sudah mulai lupa bahwa untuk mengatakan “tiga” tidak harus dengan “3”, namun bisa dengan jutaan cara. Dan inilah esensi dari prediksi nilai. Yang jauh tidak terukur itulah yang semestinya disederhanakan formulanya. Rasaya syok melihat seorang petinggi, yang nekad dan ngotot bahwa “hanya dua tambah tiga lah yang sama dengan lima”, sedang fakta teryakini bahwa pembuktian matematika akan memihak pada versi lain dari sebuah kebenaran aksen, karena seribu dikurangi sembilan ratus sembilan puluh lima pun juga mengasilkan nilai “lima”. Dan paradoks inilah yang membuat orang memilih cara kilat bahwa jika tidak begini maka pasti akan begitu, padahal belum tentu. Dan inilah bukti nyata upaya penghilangan nilai fungsi kuasa Alloh dari setiap urusan.
Menjadi murni memang bukan satu-satunya tujuan, namun menghindari kepalsuan adalah garis juang yang seyogyanya jangan hilang. Karena yang namanya palsu, ia tidak akan pernah dibuktikan kebenarannya, bahkan dengan cara matematika yang paling sederhana. Dan mungkin itulah yang hendak dikatakan Narto Sabdo pada dirinya sendiri yang bisa jadi diharapkan mewakili sisi-sisi hidup antah berantah: kehidupan seorang Dhalang Maksiat, atau Puppet Master~





