we are here to be one
to be red
to be white
to be Indonesian Fundamentalist


Thursday, 22 December 2011

Lik Man in Memoar~

"..semua lampu mati, cahaya hijau semburat dari pojok barat, pentas terbakar. selesai dengan dihentikan."

Mata berkaca-kaca. Diam di mulut kayu semakin sendu. Dari luar, daging manusia pelukis nampak tanpa dilema. Yes..yes..

Mata dan pikiran: Ia memiliki banyak Bonsai di masa lalunya. Menebangi pohon langka, dipindah dalam kamar, dan dirajutnya ranting dan dahan menjadi sesuatu yang mewakili lagu diri. Itulah penyiksaan paling pertama yang pernah ia lakukan.

Saat pohon itu mulai manja dan ketagihan dengan puja-puji manusia atas anggun bentuk kayu, pelukispun gusar, karena ia tidak terbersit untuk mengajarkan kesombongan. Kemudian pelukis itu membantai kebebasan dari semua marga pemikiran. Tiada guna mengaduh belas kasihan, karena moncong sikap tega dan ketegasan telah sukar ditarik mundur.

Ia membuat jeruji dari ingatan kelam masa lalu. Dengan termangu ia memaknai kesempitan yang bisa jadi lebih terhormat. Penjara itu begitu tidak terlihat. Sehingga yang nampak diluar justru ia adalah manusia yang sukar terborgol, banyak sayap, dan bisa terbang kemana suka. Namun itu kebohongan persepsi. Mereka tahu bahwa kebencian tidak bisa disulap menjadi cinta kasih. Pun juga dendam sosok yang jauh dari air, atau...polahnya yang terkesan tanpa norma sewindu lalu.

“aku hanya sudi menghormati kebenaran, dan bukan simpul dasi kalian yang halus oleh setrika”

Lantas ia bunuh semuanya. Kini yang mengada tinggal benih-benih puing, seperti pemulung memungut puntung benda, dan bermimpi bahwa serpihan itu bisa kembali. Menjadi sesuatu yang setidaknya pantas diberi nama.

Apakah kalian pernah menangis yang seperti ini....?

Indonesia..bangsamu bukan manusia yang tidak punya hati. Kerjakanlah hidup dengan kehormatan, dan bukan dengan teori kemakmuran~!!!

0 comment: