Saat anak-anak kecil yang lahir besar di Amerika lebih menyukai mainan ala Indian yang terusir oleh sejarah berubah menjadi target tambang uang, idealisme perubahan pun melentur. Mimesis bendawi yang berdiri didepan hanyalah pasar, dan bahkan tidak pernah bisa terpermaknai lebih dari itu. Jelas Amerika lebih dulu mengganti model baju piyamanya, dibandingkan negara lain, Indonesia misalnya. Dan sepertinya kaki reformasi hanya mondar-mandir mengejar jahitan baju tidur satu konsep negara “baru”, yang sesungguhnya tidak penting.
Cita-cita Amerika sudah bubar, tersapu gelombang dunia ketiga. Dimana tuntutan percepatan informasi melebihi distribusi uang kartal. Digitalisasi pun bermain, sehingga manusia dijauhkan dari hidup yang sebenarnya. Akses yang “26 jam sehari” menjadikan warganya hidup bagaikan layang-layang, melayang-layang di langit, melihat bumi yang semakin jauh, dan jikapun kembali ia pasti telah disebut jatuh. Dan itulah kesadaran berat yang harus ditanggung.
Brutalisme minimalisasi, kepekaan hanya disandarkan pada frekuensi elektronika, dan bukan hati. Sehingga keluar satu refrein murung seorang penyair Eropa ketika membaca perubahan yang terjadi pada zamannya “we think too much and feel too little”, kegetiran bukan hanya milik manusia pengagung budaya, karena nun jauh dari sekedar itu, anak-anak tetaplah anak-anak, dimana kemurnian adalah dunia yang tidak bisa dipisahkan dengan modus apapun.
Ada sebuah premis revolusioner yang dibilang masyur, membangun asumsinya dengan jaminan bahwa sekeras apapun dekade itu mendatangi jaman, biarpun sarat dengan gejolak dan pergolakan, toh kita tidak akan secara total menghancurkan diri sendiri. Karena perubahan hanya akumulasi dari keingintahuan yang lebih.....( atau keserakahan? )
Tidak disangkal, perubahan memang memberikan transformasi raksasa dalam mendelegasikan cara pikir, gaya hidup. Tapi biaya dan kehilangan yang harus ditanggung terlalu mahal. Bisa dibayangkan, jika Amerika yang katanya menjadi “contoh model dunia” tergerus energinya hanya untuk mengurusi konsultasi kehamilan diluar nikah, kampanye kondom, atau perijinan rumah bordil, ditambah serunya permainan klasifikasi alkohol sebelum umur. Sejatinya segala urusan itu mutlak bisa diselesaikan dengan agama, dan bukan dengan budaya serta legitimasi perubahan atasnya.
Nyali demokrasi memang kuat untuk menantang manusia lebih bebas, namun demokrasi tidak pernah berhasil merumuskan kebebasan yang ideal, hingga kini.
Siapa memburu siapa, dan untuk apa manusia dibiarkan hidup atau dibunuh. Semua itu masih dilema, diantara calo pahlawan hak asasi manusia, sedang kebencian yang berarti pelatuk itu kuat terpancar di wajah mereka yang tidak menghendaki zaman berjalan dalam kemurnian.
Dunia dibuat terbiasa dengan kata per-da-mai-an, yang tidak lebih justru menjadi kunci gembok pintu keadilan. Jika penolak ekonomi versi Adam Smith selintutan menyusun The Death of Economy, atau Habermas dan Derrida yang menutup kuping sambil ngomyang di papan Philosophy in a Time of Teror, kiranya itu semua bukanlah pembeda antara benar salah, karena itu hanya mengungkap sebuah kecenderungan zaman.
Karena batas pembeda antara kegiatan ekonomi dan kejahatan hanyalah satu, terjadinya riba. Dan jika kita sudi menilik lebih cermat, The Real Pentagon of USA bukan gedung segi lima seperti yang telah dicekokkan ke pikiran manusia, melainkan satu Never Sleep Building yang isinya adalah pecandu riba.
Renternir lebih berbahaya dari seorang tentara bersenjata lengkap, karena bank merupakan noda kiri dari sebuah konstitusi, tidak akan meninggalkan seorang manusia hingga mereka terbangun dari tidur di sebuah tempat yang bukan lagi rumahnya, begitulah memoar seorang Thomas Jefferson terhadap negerinya sendiri waktu itu. Dan mungkin Jefferson cuma pengkhianat bagi anak turunya, karena tidak setia terhadap penindasan.
Amerika hanya sebuah nama, tempat sebuah populasi besar yang menghimpun dunia dari riba, yang begitu takut dengan gelombang dunia ketiga. Sedang kelak, pada satu hari yang panas, dimana hijau daun Akasia tinggal menjadi pengisi angan penat hari, manusia Indonesia yang memburu demokrasi akan berkata dalam batinnya, bahwa ia telah tertipu dan tempat kembali sudah terlalu jauh dan rumit ditemukan, meski cuma kerangkanya~
-------------------------------------------------------------------------
sekilas mengenang kembali Psychological Operations in Guerrilla warfare.
.
Ditulis untuk Korps Pegiat Informasi
January, 12-2012:::::9:09pm~


0 comment:
Post a Comment